Jiro Sato benar-benar membuktikan bahwa mimpi tak pernah mati. Aktor kawakan yang dikenal lewat berbagai peran ikonik di Gintama hingga BOMB ini, punya cerita heroik di balik layar. Sekitar lima tahun lalu, ia duduk sendirian, menulis skenario utuh untuk sebuah film orisinal berjudul Nanashi (berarti 'Tanpa Nama'). Tapi jalan menuju layar lebar ternyata terjal — sangat terjal.
Fakta mencengangkan muncul saat konferensi pers di Tokyo, 7 Juni lalu. Sato mengaku telah membawa naskah Nanashi ke 30 produser berbeda. Satu per satu, pintu tertutup rapat.
"Aku mendekati sekitar 30 produser, tapi semuanya menolak," ungkapnya. Alasan klasik yang terus menghantui sineas Jepang: "Mereka bilang, original works are difficult. Industri film Jepang masih sangat bergantung pada adaptasi populer atau sekuel — film orisinal dianggap terlalu berisiko."
Tapi takdir punya rencana lain. Nanashi, yang mengisahkan perjuangan seorang pria kehilangan nama dan keajaiban yang mengikutinya, justru menjadi fenomena. Setelah dirilis, film ini mencetak pendapatan kotor lebih dari 2 miliar yen (sekitar Rp200 miliar) — angka yang di luar ekspektasi untuk film orisinal tanpa basis penggemar bawaan.
Bersama Kishi Miki yang turut hadir di panggung, Sato tak bisa menyembunyikan rasa syurnya: "Aku sudah hampir menyerah, tapi film ini akhirnya bahagia. Aku merasakan sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata dari industri film Jepang."

Keberhasilan Nanashi menjadi tamparan manis bagi sistem yang kerap mencekik kreativitas. Di tengah banjirnya adaptasi manga, novel, dan drama, satu cerita orisinal kini membuktikan penonton tetap haus akan tawa dan air mata yang segar.

Bagi Sato, ini bukan sekadar angka box office — ini pembalasan atas keyakinan. Nanashi membuktikan bahwa kadang, jalan paling sunyi adalah yang paling berbuah.