featured

Bayangkan sebuah game yang lahir dari jiwa anime klasik 80-90an: Ranma 1/2, Evangelion, dan Dragon Ball. Itulah Orbitalz, karya Shapefarm, studio Tokyo dengan tim mayoritas dari luar negeri yang terinspirasi habis-habisan oleh era emas animasi Jepang. Creative Director Marcos Ramos menyebutnya sebagai 'love letter' untuk masa kecilnya yang dibentuk ketiga anime legendaris itu, sekaligus tribut untuk 'era harapan' yang penuh semangat petualangan.

image2

Yang bikin Orbitalz istimewa adalah perpaduan gameplay 3D dengan visual 2D ala cel anime. Tim prioritas 'kekurangan analog' daripada akurasi fisika sempurna—mirip getaran film kamera jadul atau bayangan cel yang autentik. Animasi berjalan di 12 atau 24 fps khas anime, elemen bergerak pakai cel shader, sementara background statis dengan paint shader. Mereka bahkan simulasikan efek 80an seperti jitter kamera, bayangan cel, dan goyangan outline langsung di engine game. Teknik sulit seperti filter Kuwahara real-time untuk scenery jauh bergaya lukisan tangan butuh berbulan-bulan optimasi!

Cutscene dibuat STUDIO MASSKET dengan aset langsung dari Shapefarm, jadi integrasi mulus tanpa celah. Game ini berevolusi dari prototype robot top-down jadi adventure co-op third-person, terpengaruh pengalaman Jacob di Hazelight Studios (It Takes Two). Hasilnya? Visual sakuga-level yang bikin penggemar anime nostalgia berat, tapi tetap fresh untuk co-op seru.

image3

Shapefarm bukti bahwa pengaruh anime Jepang melampaui batas—dari Tokyo ke dunia. Marcos bilang, jiwa Ranma 1/2 yang kocak, kedalaman Evangelion, dan aksi epik Dragon Ball membentuk visi mereka. Bagi komunitas anime Indonesia yang doyan retro, Orbitalz seperti reuni dengan masa kecil: penuh harapan dan imperfect beauty ala anime jadul.

Siap co-op bareng teman sambil nostalgia? Pantau rilis Orbitalz dan ikuti update Shapefarm—jangan sampai ketinggalan love letter ini! (378 kata)