
Biasanya, sebuah band lahir dari lagu atau personel. Tapi kurayamisaka justru memulai dari nama. Shimizu Shotaro, sang gitaris, pertama kali terpikat dengan kata “Kurayamizaka” — lereng di Oimachi, Shinagawa — dan langsung merasa itu cocok jadi nama band. Maka ia rekrut anggota, lalu ciptakan lagu. Unik, kan?
Band yang mengaku sebagai “grup lima orang dari Oimachi” ini punya ikatan kuat dengan daerah itu: dua anggota asli warga Oimachi, satu tinggal tak jauh, dan Shimizu sendiri pindah ke sana pada 2019. Identitas lokal ini mereka pakai habis-habisan, bahkan dalam tagline profil resmi. Hasilnya? Lagu hits dan album “kurayamisaka yori ai wo komete” jadi soundtrack kebanggaan warga setempat.
Tahun 2024, gebrakan lain terjadi. Konser live kurayamisaka diputar di TOHO Cinemas dalam kompleks OIMACHI TRACKS — pencapaian yang tak lepas dari branding “band Oimachi” yang melekat. Bagi penggemar, ini seperti panggung virtual yang membawa semangat lereng ke layar lebar.

Menariknya, kurayamisaka awalnya proyek sampingan Shimizu. Ia sebelumnya main di band ‘sedai’, dan ingin vokalis Naito Sachi mendapat sorotan. Dari situ, nama yang unik dan cerita lokal meledak jadi fenomena musik indie Jepang. Bukan sekadar lereng — ini soal komunitas dan kreativitas murni.

Bagi pecinta musik Jepang, kurayamisaka adalah bukti bahwa kadang nama yang tepat bisa menulis takdir. Dari lereng Oimachi, mereka mengirim cinta lewat lagu — dan panggung terus meluas. Pantas terus dipantau!
Ikuti terus perjalanan kurayamisaka — dari lereng Oimachi ke panggung dunia.