
Shigeko Inuyama, penulis dan talenta Jepang yang dikenal dengan pemikirannya yang tajam, baru-baru ini tampil di program NTV "DEEP ni Hamaru" untuk membahas isu lookism — diskriminasi berdasarkan penampilan fisik. Dalam perbincangan yang mengundang perhatian tersebut, Inuyama secara terbuka mengkritik maraknya iklan kecantikan yang justru memicu standar kecantikan tidak realistis.
Ia menyoroti iklan-iklan seperti “hair removal untuk remaja” dan “double eyelid sebelum SD” yang sering terpampang di dalam kereta dan media sosial. Menurut Inuyama, iklan semacam itu bukan sekadar menawarkan jasa, melainkan secara halus menanamkan kompleks inferioritas baru pada orang yang sebelumnya tidak memiliki kekhawatiran tersebut. “Iklan itu menciptakan rasa tidak percaya diri yang sebelumnya tidak ada,” tegasnya.
Shigeko Inuyama Kritik Iklan "Teens Hair Removal" dan "Double Eyelid"

Fenomena ini, bagi Inuyama, adalah bentuk tekanan sosial yang berbahaya. Iklan yang terus-menerus muncul di kereta atau linimasa SNS secara tidak sadar membentuk standar bahwa tubuh tertentu perlu “diperbaiki”. Padahal, kata dia, banyak orang, terutama remaja, tidak pernah merasa perlu melakukan hal tersebut sampai mereka melihat iklan itu. Dengan kata lain, iklan justru menciptakan permintaan dengan cara membangkitkan rasa malu pada penampilan asli.
Di sisi lain, Inuyama sendiri adalah figur publik yang dikenal vokal soal isu sosial. Ia menikah dengan seorang produser musik pada Agustus 2014 dan melahirkan anak pertamanya pada Januari 2017 — sisi kehidupannya yang jarang disorot, namun menunjukkan bahwa ia juga manusia biasa yang mungkin merasakan tekanan standar kecantikan.

Kritik Inuyama ini menjadi pengingat bahwa lookism bukan hanya soal penampilan, tapi juga soal bagaimana media dan iklan membentuk persepsi kita. Untuk baca selengkapnya di sini, artikel asli dari ORICON NEWS (10 Juni 2026) memberikan liputan lebih dalam. Sementara itu, jangan lewatkan berita Japanese Infotainment lainnya yang mengupas fenomena serupa di Jepang.
Pesan Inuyama jelas: sebelum kita membiarkan iklan mendikte rasa percaya diri kita, ada baiknya bertanya — apakah ini benar-benar kebutuhan, atau hanya kompleks yang sengaja ditanamkan?