
GungHo Online Entertainment, publisher game ternama seperti Ragnarok Online dan Puzzle & Dragons, baru-baru ini diterpa skandal hukum serius. Mantan Kepala Sistem perusahaan, Takanori Kikuchi (48), resmi ditangkap Kepolisian Metropolitan Tokyo atas tuduhan penggelapan (breach of trust) dana perusahaan senilai sekitar ¥40 juta atau setara Rp4 miliar. Kasus ini langsung menyita perhatian komunitas gaming karena melibatkan oknum pejabat tinggi di salah satu developer game mobile paling sukses di Jepang.
Kronologi Kasus: Fiktif Order dan Penggelapan Rp4 Miliar
Menurut laporan dari 4Gamer, Kikuchi diduga memanfaatkan platform crowdsourcing untuk membuat order fiktif berupa “investigasi cacat produk” yang seluruhnya diarahkan ke rekening pribadinya. Dalam 12 kali transaksi, total ¥40 juta mengalir ke kantongnya. Sebagai Sistem Head, ia memiliki wewenang menyetujui order di bawah ¥3 juta—celah ini ia pergunakan dengan memerintahkan anak buahnya membuat proposal fiktif lalu ia setujui sendiri. Praktik ini berlangsung cukup lama hingga akhirnya terendus audit internal.

Tak hanya itu, investigasi internal GungHo mengungkap total kerugian mencapai ¥246 juta (Rp24,6 miliar) akibat ulah sang mantan eksekutif. Perusahaan pun langsung mengambil tindakan tegas dengan memecat Kikuchi pada 24 Juli 2025. Dalam kasus terpisah, ia juga diduga menyebabkan kebocoran dana ¥100 juta ke vendor rekanan, meski dana tersebut sudah dikembalikan penuh setelah proses mediasi antara GungHo dan vendor.

Skandal ini jadi pengingat bahwa meski perusahaan game raksasa punya sistem keuangan canggih, pengawasan internal tetap wajib diperketat. Apalagi di industri yang mengelola miliaran rupiah dari transaksi mikro dan gacha. Untuk berita seputar kasus dan update Japanese gaming lainnya, cek terus kategori berita Japanese Gaming kami.
Gimana menurut kalian soal pengamanan internal di developer game? Kasus seperti ini bisa terjadi di mana aja—drop pendapat kalian di kolom komentar!