
Kabar gembira buat para pecinta manga rom-com yang fresh: Ore no Ichizu wo Jama suru Aitsu alias The Guy Who Interferes with My Devotion resmi merilis volume pertamanya. Manga yang diangkat dari artikel Natalie ini langsung mencuri perhatian karena premisnya yang unik dan sedikit nakal—seorang bocah SD yang baru memasuki masa pubertas mendadak digoda habis-habisan oleh sahabat masa kecilnya. Bukan sekadar cinta monyet biasa, kisah ini menawarkan dinamika “devotion vs distraction” yang bikin gemas sekaligus geleng-geleng kepala.
Konflik Unik: Kesetiaan di Usia Belia
Bayangkan seorang anak laki-laki di bangku SD yang sudah punya tekad bulat untuk setia pada seseorang—entah itu crush atau cita-cita—tapi langkahnya terus dihambat oleh teman masa kecilnya yang tiba-tiba menjadi sangat “menggoda.” Itulah inti cerita Ore no Ichizu wo Jama suru Aitsu. Sang tokoh utama, yang masih duduk di kelas 5 atau 6 SD, harus berhadapan dengan sahabat perempuannya yang mulai menggunakan pesona fisik untuk mengalihkan perhatiannya. Ini bukan sekadar komedi romantis biasa; ada lapisan psikologis tentang bagaimana anak-anak menghadapi gejolak emosi pertama mereka.

Dari segi visual, manga ini mengusung gaya gambar shonen yang bersih dan ekspresif, cocok untuk menangkap momen-momen canggung antara dua anak yang masih belajar memahami perasaan. Tak heran jika banyak pembaca langsung membandingkannya dengan My Love Story!! (Ore Monogatari)—meski beda genre, keduanya sama-sama mengangkat tema cinta pertama yang polos namun penuh kejutan.
Satu hal yang membuat Ore no Ichizu wo Jama suru Aitsu layak diikuti adalah konsistensi emosinya. Setiap chapter menghadirkan adegan-adegan manis sekaligus kocak, terutama saat sang bocah berusaha mempertahankan “kesetiaannya” sementara sahabatnya terus menggodanya dengan berbagai cara. Bagi kamu yang suka drama ringan dengan sentuhan komedi, manga ini bisa jadi teman melepas penat yang sempurna.

Jangan lupa simak juga berita Japanese Manga lainnya untuk update seru dari dunia manga. Sudah baca volume pertamanya? Yuk, bagi pendapat kamu di kolom komentar—siapa tahu kita bisa bahas chapter berikutnya bareng-bareng!
