
Industri game global diprediksi tembus $197 miliar tahun ini—tapi nyatanya masih ada satu target demografis yang nyaris dilupakan: para gamer berusia lanjut. Menurut Emmanuel Rosier, Direktur Informasi Pasar Newzoo, para pensiunan punya daya beli tinggi tapi hampir tidak ada game yang dirancang khusus untuk mereka. Apakah ini blunder besar yang akan disesali nanti?
Data dari Inggris menunjukkan potensi yang tak main-main. Pada 2024, ada sekitar 6,53 juta gamer berusia 55+ di sana—hampir 1 dari 3 orang di kelompok usia itu bermain game. Angka ini diproyeksikan melonjak menjadi 7,32 juta pada 2031. Meski begitu, pengembang masih enggan menyentuh segmen ini.
Joost van Dreunen, CEO Aldora, memberi peringatan keras: mengabaikan gamer senior sama bodohnya dengan mengabaikan gamer perempuan dulu. Lalu apa yang sebenarnya mereka mau? Larry Kuperman (mantan VP Business Development Nightdive Studios) menyebut kelompok ini doyan cozy game, casual game, game retro, dan kebangkitan IP lawas yang sudah mereka kenal.

Tapi bukan cuma soal selera. Jack Emmert, CEO Cryptic Studios, menekankan perlunya desain yang adaptif—mempertimbangkan refleks dan stamina yang menurun. Masalahnya? Kurangnya desainer game di atas 50 tahun jadi hambatan nyata. Ironis, karena di sisi lain kita disuguhi fenomena viral seperti kakek 91 tahun, Yang Binglin, yang tenang main Resident Evil: Requiem, atau Mamie alias GrammaCrackers yang ngevlog Minecraft.

Melihat data ini, sudah saatnya studio berhenti hanya mengejar pemain muda. Pasar senior menganga lebar—siapa yang berani duluan menyasar mereka? Kalau kamu punya kakek-nenek yang jago match-3 atau puzzle, ajak mereka ngobrol soal game kesukaan, ya! Siapa tahu jadi ide game berikutnya.