
Jagat gaming sedang dibanjiri dengan judul-judul bertema nostalgia, dan salah satunya adalah Agefield High: Rock the School. Game open-world action adventure ini diluncurkan untuk PC (Steam) pada 13 Agustus 2026. Konsepnya menarik; kita diajak kembali ke masa SMA di awal tahun 2000-an, menjalani sisa tiga bulan kehidupan sekolah yang penuh drama. Namun, meski premisnya terdengar manis, sambutan dari komunitas gaming global ternyata jauh dari kata menyenangkan.
Secara keseluruhan, penerimaan Agefield High: Rock the School sangat dingin. Dengan skor Metacritic hanya mencapai 30 poin dari tujuh ulasan, kritikus menunjukkan bahwa meskipun konsepnya menarik, eksekusi game ini penuh masalah teknis dan gameplay yang mengecewakan. Kritik keras menyeruak, menyebutnya "sampah" atau "kegagalan total."

Mengapa Agefield High Gagal Membangkitkan Nostalgia?
Salah satu harapan besar komunitas adalah game ini akan menjadi penerus spiritual dari mahakarya bertema sekolah seperti Bully. Sayangnya, para reviewer menunjuk pada beberapa kelemahan fatal. Mereka menilai bahwa game ini terlalu bergantung pada nostalgia semata. Alih-alih memberikan pengalaman yang mulus dan mendalam, pemain justru dihadapi dengan masalah performa yang parah—mulai dari "model karakter yang seperti robot seks" hingga misi yang terasa rusak (broken missions) dan grafis yang tidak stabil.
Banyak yang merasa bahwa Agefield High gagal menangkap esensi interaksi SMA tahun 2000-an, malah terlihat seperti hanya meniru tanpa memperbaiki dasar gameplay. Para kritikus juga menyoroti bahwa game ini mengabaikan banyak fitur Quality of Life (QoL) mendasar yang seharusnya ada di game open-world modern.

Meski memiliki elemen eksplorasi open-world yang luas, di mana pemain bebas menjelajahi kota dan mengikuti alur cerita melalui kelas atau misi utama, masalah teknis ini menutupi semua potensi positifnya. Jika kamu ingin tahu detail kritik dari para reviewer lain, kamu bisa membaca selengkapnya di sini.
Intinya, Agefield High: Rock the School adalah contoh klasik bagaimana konsep yang brilian bisa tenggelam dalam eksekusi teknis yang buruk. Untuk pengalaman Japanese Gaming ala SMA tahun 2000-an, mungkin ada berita Japanese Gaming lainnya yang lebih matang di pasaran!
Gimana menurut kalian? Apakah kamu siap menerima kekecewaan dari game bertema sekolah ini, atau mending menunggu judul lain yang lebih stabil secara teknis? Drop komentar di bawah dan ajak teman-teman kamu buat diskusi seru!
