
Bagi para pencinta manga dengan bumbu drama romantis yang pahit, Nui no Shikijitsu (ぬいの式日) karya Nanaharu Shima adalah judul yang wajib masuk radar kalian. Volume pertama tankōbon-nya baru saja dirilis, dan premisnya langsung menusuk hati: seorang desainer gaun pengantin berbakat di Osaka jatuh cinta pada pengantin wanita yang menjadi kliennya sendiri — lalu patah hati saat sang klien memilih orang lain. Menurut laporan dari Natalie, cerita ini mengeksplorasi ironi cinta sepihak di tengah profesi yang seharusnya merayakan cinta orang lain.
Premis Unik 'Nui no Shikijitsu'
Yang membuat Nui no Shikijitsu berbeda dari drama romantis biasa adalah sudut pandangnya. Sang protagonis, seorang perancang busana pengantin yang sangat ahli, tidak bisa menahan perasaan terhadap gaun yang ia buat—dan secara metaforis, terhadap sosok yang akan memakainya. Namun, alih-alih menjadi kisah cinta yang manis, mangaka Nanaharu Shima memilih jalan yang lebih realistis dan menyakitkan: cinta yang tak berbalas. Ini adalah cerita tentang bagaimana cinta bisa lahir dari proses kreatif yang intim, dan bagaimana kehilangan menjadi bagian tak terpisahkan dari seni.
Volume pertama memperkenalkan karakter utama dengan latar belakang Osaka yang glamor. Gaya gambar Shima terasa detail dan ekspresif, terutama saat menggambarkan detail renda gaun pengantin—setiap lipatan kain seolah punya cerita sendiri. Bagi pembaca yang menyukai manga seperti Nodame Cantabile atau Honey and Clover dengan elemen seni dan cinta yang rumit, judul ini menawarkan kedalaman emosional yang sama.

Meski volume 1 baru tersedia, antusiasme sudah terasa—beberapa edisi bahkan dikabarkan sudah out of print. Ini menunjukkan bahwa tema yang diangkat Nanaharu Shima benar-benar menyentuh hati pembaca. Jika kamu tertarik mengeksplorasi lebih banyak manga Jepang dengan tema serupa, jangan lupa mampir ke koleksi berita Japanese Manga lainnya di Popshck.

Nui no Shikijitsu bukan sekadar cerita cinta; ia adalah refleksi tentang bagaimana seorang seniman bisa kehilangan hatinya pada karyanya sendiri. Sudah baca volume pertamanya? Atau malah penasaran dengan nasib sang desainer? Yuk, diskusi di kolom komentar!