
Sebuah kisah Taisho romance yang baru saja mencuri perhatian para pencinta manga. Cerita ini berpusat pada seorang perempuan muda yang memiliki satu impian: menjadi shokugyou fujin — seorang wanita karier yang mandiri di tengah masyarakat Jepang era Taisho yang masih sangat tradisional. Namun, takdir berkata lain. Di saat ia bersiap mengejar ambisinya, sebuah enkai (lamaran perjodohan) tiba. Pernikahan tanpa cinta pun menjadi awal dari kisahnya.
Manga ini mengangkat konflik klasik yang tetap relevan: benturan antara ekspektasi sosial dan keinginan pribadi. Sang tokoh utama tidak ingin sekadar menjadi istri yang patuh; ia ingin memiliki profesi, penghasilan, dan identitas di luar rumah. Namun, tekanan keluarga dan norma zaman membuatnya sulit menolak. Di sinilah drama dimulai — akankah ia menemukan cinta di tengah pernikahan yang dipaksakan? Atau justru pernikahan itu menjadi belenggu yang meredam mimpinya?

Nuansa Romansa dan Perlawanan dalam Balutan Sejarah
Yang membuat karya ini istimewa adalah latar Taisho (1912–1926), masa transisi di Jepang ketika pengaruh Barat mulai terasa dan gerakan emansipasi perempuan mulai tumbuh. Penggambaran kimono modern, bangunan bergaya Eropa, serta perdebatan soal peran perempuan dalam ranah publik dan privat dikemas apik dalam panel-panel penuh detail. Bagi penggemar berita Japanese Manga lainnya, ini adalah tawaran segar di luar tema isekai atau shonen yang mendominasi.
Perjodohan yang digambarkan bukan sekadar alat plot. Ia menjadi media kritik sosial yang halus namun tajam. Penulis menyelipkan ironi: sang perempuan ingin diakui kemampuannya di luar rumah, sementara masyarakat justru memandang pernikahan sebagai satu-satunya pencapaian hidupnya. Evolution karakter sangat mungkin terjadi seiring berjalannya tankōbon — dan kita diajak untuk bertanya: bisakah cinta tumbuh tanpa pilihan?

Buat kamu yang rindu kisah romansa historis dengan kedalaman tema feminis, manga ini patut masuk reading list. Jangan lupa baca selengkapnya di sini untuk kabar rilis resminya.
Sudah kepincut sama premisnya? Siap-siap baper dan mikir keras — soal cinta, karier, dan harga diri.