
Nexon baru saja menghebohkan NDC26 (Nexon Developers Conference 26) lewat proyek open license bernama Replay. Dipresentasikan oleh Oh Se-hyun, mantan pemimpin MapleStory World (2019–2023) yang kini mengawasi lisensi IP Nexon, proyek ini lahir dari satu pertanyaan sederhana: “Bisakah game berusia 20 tahun menjadi peluang lagi?” Jawabannya ada pada perpaduan AI, UGC, dan memori komunitas.
Replay: Strategi Nexon Hidupkan Kembali Game Legendaris
Selama ini, usaha menghidupkan kembali IP lama selalu terbentur biaya besar karena analisis kode dan pelacakan aset masih manual. Kini, AI mengambil alih tugas berat itu—menganalisis kode, mengorganisir file, dan mengidentifikasi risiko—sehingga prosesnya jadi jauh lebih murah dan cepat. Oh Se-hyun menekankan bahwa Replay tidak sekadar menjual aset game bekas, melainkan memanfaatkan kenangan pemain dan kekuatan komunitas yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.
Ekonomi konten buatan pengguna (UGC) juga sudah matang. Tim kecil pun kini bisa membuat game komersial dari IP lawas Nexon tanpa harus memulai dari nol. Tapi syaratnya: konten core (inti) harus tetap terasa familiar, agar pemain lama bisa memainkan ulang, berdiskusi, dan merekomendasikan game tersebut ke generasi baru.

Konsep ini sejalan dengan pernyataan CEO Nexon soal konteks pemenang di era AI, dan juga gaya multi-project development yang dibahas Park Yong-hyun di NDC 2026 (lihat gambar di bawah). Inovasi seperti ini tentu menarik perhatian developer Indonesia yang selama ini mengidolakan ekosistem game Korea-Jepang. Kalau kamu penasaran dengan detail teknisnya, baca laporan asli dari 4gamer.net di sini.
Jangan lupa cek juga berita Japanese Gaming lainnya di Popshck biar wawasan gaming kamu makin luas.
Menurut lo, franchise lawas apa yang paling pas buat di-revive? Udah nggak sabar lihat game 20 tahun lalu comeback? Drop komentar di bawah dan ajak teman-teman kamu berdiskusi!